KOLTIM,SITUSULTRA.com- Penobatan Raja (Bokeo) Mekongga Ke XXII menjadi momentum penting bagi pelestarian adat dan kebudayaan Nusantara. Sebanyak 24 raja dan perangkat kerajaan serta tokoh adat dari berbagai wilayah Nusantara hadir dalam rangkaian penobatan yang berlangsung di Situs Cagar Budaya Bokeo Robe, Desa Wonuambuteo, Kecamatan Lambandia, Kabupaten Kolaka Timur.
Kehadiran para pemangku adat dan kerajaan dari berbagai daerah tersebut memperlihatkan bahwa tradisi kerajaan Nusantara masih memiliki ruang penting dalam kehidupan kebudayaan Indonesia. Penobatan Bokeo Mekongga Ke XXII tidak hanya menjadi peristiwa adat bagi masyarakat Mekongga, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antarkerajaan untuk memperkuat silaturahmi, bertukar pengalaman, serta bersama-sama menjaga warisan budaya leluhur.
Sejumlah tokoh kerajaan yang hadir antara lain PYM Raja Keraton Surakarta sekaligus Ketua Umum DPP MAKN Pusat YM Dr. KPH Eddy S. Wirabhumi, S.H., M.H.; Bhontona Lantongau YM Dr. Ir. Muhamad Rajulan, S.T., M.Si.; Raja Nusak Termanu Rote, NTT, PYM Vico Amalo bersama permaisuri PYM Actry Amalo; Sultan Buton PYM Ir. H. La Ode Muh. Syamsul Qamar, M.T., IPU; Raja Kobaena XXXIII PYM Apua Mokole Kasman Lanota Sangia Dai Bolonangka, S.P.; serta Raja Pencea Moronene Poleang PYM Apua Mokole Nippon Muhammad Ali.
Turut hadir Raja Karaeng Rumbia Jeneponto YM Andi Ratnasari Patta Sunny Karaeng Bainea; Datu Luwu YM H. Andi Baso Ilyas Opu Lanre, S.T.; Raja Lakina Wanse PYM La Ode Saharumu; Raja Lakina Barata Kulinsusu XXIV PYM La Ode Darlan, S.KM.; Raja Wawonii XIII PYM Paapu Mokole H. Abd. Salam; Raja Sanrobone XXX Takalar PYM Andi Zulkifli Yusuf Daeng Rani Karaengta Pangkaje'ne; Raja Mori Kolonodale PYM Mokole Arman Marunduh; Raja Konkep PYM H. Abdul Salam, AP, M.Si.; Raja Rumbia Moronene PYM Apua Mokole Alfian Pimpie, S.H., M.Ap.; serta Raja Muna PYM La Ode Riago Kino Kasaka Sangia Kobenteno Wuna, S.H., bersama sejumlah pembesar Kerajaan Muna.
Selain itu, hadir Raja Mare Selayar PYM Opu A. Soraya Karaeng Lolo bersama permaisuri PYM A. Ramlah, S.Pd., M.Sos.; YM Fahri Hamzah, Pemangku Adat Kedatuan Luwu; YM Ester Mangiri, Putri Kerajaan Balusu; YM Lanika Minolawa, Kerajaan Muna; YM Nasaruddin Saga, Bhontobalano Kerajaan Muna; YM Laode Agus Salim Mando, Kapilao Kerajaan Muna; Sekretaris DPW MAKN Sultra YM Dr. (H.C.) Ar. Mokole A. Muslimin MS Sangia Pusu, S.T., M.PW., IAI.; serta Ketua Harian MAKN Kolaka YM Anakia Syaifullah.
Dalam sambutannya, Ketua Umum DPP MAKN Pusat yang juga PYM Raja Keraton Surakarta, YM Dr. KPH Eddy S. Wirabhumi, S.H., M.H., memberikan apresiasi terhadap keterlibatan kalangan akademisi dan perguruan tinggi dalam kegiatan pelestarian adat dan budaya.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak dapat hanya dibebankan kepada kerajaan dan masyarakat adat. Perguruan tinggi juga memiliki peran strategis melalui pendidikan, penelitian, dokumentasi, pengembangan pengetahuan, serta penguatan generasi muda.
“Ada Pak Rektor juga dan seluruh keluarga besar beliau dapat selalu membantu Kerajaan Mekongga ini. Sama seperti kami di sana, selalu sama-sama universitas-universitas yang ada di wilayah kami dalam rangka menjalankan tugas melestarikan, mengembangkan adat dan tradisi budaya.” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya membangun hubungan yang kuat antara kerajaan, masyarakat adat, perguruan tinggi, pemerintah, dan generasi muda. Warisan leluhur tidak cukup hanya dikenang dalam seremoni, tetapi perlu dipelajari, didokumentasikan, dikembangkan, dan diwariskan melalui pendidikan.
Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, keberadaan kerajaan dan lembaga adat memiliki tantangan baru. Nilai-nilai budaya harus mampu diterjemahkan ke dalam kehidupan generasi muda tanpa kehilangan akar sejarah dan jati dirinya.
Penobatan Bokeo Mekongga Ke XXII menjadi simbol bahwa sejarah tidak semestinya berhenti sebagai cerita masa lalu. Sejarah harus menjadi sumber kesadaran untuk membangun masa depan.
Bokeo bukan sekadar gelar. Di dalamnya terdapat tanggung jawab moral untuk menjaga martabat adat, memelihara hubungan sosial, dan menjadi bagian dari kesinambungan sejarah masyarakat Mekongga.
Demikian pula kehadiran para raja dari berbagai wilayah Nusantara membawa pesan bahwa keberagaman kerajaan dan adat tidak harus menjadi sumber perbedaan. Sebaliknya, keberagaman tersebut dapat menjadi kekuatan kebudayaan Indonesia ketika dipertemukan dalam semangat saling menghormati.
Dari Surakarta, Buton, Luwu, Muna, Selayar, Tator, Moronene, Wawonii, Mori, Rote, Jeneponto hingga Mekongga, perjumpaan para pemangku adat itu memperlihatkan satu kenyataan penting. Nusantara memiliki kekayaan tradisi yang sangat besar, dan setiap generasi memiliki kewajiban untuk merawatnya.
Pelestarian adat pada akhirnya bukan semata-mata tentang mempertahankan simbol, pakaian kebesaran, gelar, atau seremoni. Yang jauh lebih penting adalah menjaga nilai yang hidup di balik simbol tersebut.
Adat mengajarkan manusia tentang penghormatan, tanggung jawab, persaudaraan, musyawarah, keseimbangan, dan hubungan manusia dengan lingkungan sosial maupun alamnya.
Karena itu, penobatan Bokeo Mekongga Ke XXII hendaknya dipahami sebagai momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif bahwa warisan leluhur bukan barang masa lalu yang hanya disimpan di museum. Ia adalah identitas yang hidup, yang harus terus dipelajari dan diaktualisasikan sesuai perkembangan zaman.
Kehadiran para raja-raja dan perangkat kerajaan Nusantara di Wonuambuteo sekaligus menjadi pesan kebudayaan. bahwa di tengah modernisasi, masyarakat Indonesia tetap membutuhkan akar sejarah untuk memahami siapa dirinya dan ke mana arah masa depannya.
merawat adat bukan berarti menolak perubahan. Sebaliknya, merawat adat berarti memastikan perubahan tidak membuat sebuah masyarakat kehilangan jati dirinya.
Penobatan Bokeo Mekongga Ke XXII akhirnya tidak hanya menjadi catatan sejarah bagi Mekongga, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar lebih besar untuk menjaga ingatan kolektif Nusantara agar warisan para leluhur tidak berhenti pada generasi hari ini, melainkan terus hidup, tumbuh, dan memberi makna bagi generasi yang akan datang.
Penulis : Hasmadin




