KOLTIM,SITUSSULTRA.com-Adat bukan sekadar warisan yang disimpan dalam ingatan. Ia adalah nilai yang harus hidup, dijaga, dan diwariskan melalui tindakan.
Semangat itulah yang ditegaskan Tamalaki Bende Wonua dalam arah perjuangannya membangun organisasi adat yang berwibawa, berintegritas, berbudaya, dan berkarakter. Organisasi ini ingin memastikan adat tidak berhenti pada simbol dan seremoni, tetapi hadir dalam kehidupan masyarakat melalui pembinaan generasi, penguatan persatuan, pemberdayaan, dan pengabdian sosial.
Bagi Tamalaki Bende Wonua, kewibawaan tidak dibangun melalui kekuatan ataupun tekanan. Kewibawaan lahir dari keteladanan, integritas, tanggung jawab, dan keberanian untuk mengabdi.
Ketua Tamalaki Bende Wonua, Asdar Bundu, menegaskan bahwa organisasi adat harus mampu mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
“Tamalaki harus hadir bukan hanya ketika adat dipersoalkan, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan pengabdian. Kewibawaan organisasi harus dibangun melalui keteladanan, integritas, persatuan, dan kerja nyata untuk masyarakat,” tegas Asdar.
Menurut Asdar, keberanian seorang Tamalaki bukanlah keberanian untuk mencari pertentangan. Sebaliknya, keberanian harus diwujudkan dengan berdiri di atas kebenaran, menjaga kehormatan, dan berani memikul tanggung jawab terhadap masyarakat.
Sementara itu, Pesan yang sama datang dari Dewan Adat Tamalaki Bende Wonua, Tazba Bin Thayeb. Ia menilai kekuatan adat yang sesungguhnya bukan terletak pada simbol, tetapi pada nilai yang mampu menyatukan manusia.
“Adat jangan dijadikan alasan untuk saling berhadapan. Adat harus menjadi jalan untuk memperkuat persaudaraan, musyawarah, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama. Di situlah martabat adat benar-benar terlihat.” ungkap Tazba.
Dalam pernyataannya, Ia menegaskan bahwa posisi adat sebagai jembatan persaudaraan, bukan tembok pemisah.
"Semangat persatuan, gotong royong, musyawarah, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman menjadi bagian penting dari arah organisasi," jelasnya.
Dengan perspektif itu, pelestarian adat tidak cukup hanya dengan mempertahankan simbol dan tradisi. Yang jauh lebih penting adalah memastikan nilai-nilai luhur tersebut dipahami, dihayati, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di tengah derasnya perubahan zaman, Samsul Togala, Sesepuh Adat Tamalaki Bende Wonua, memberikan pesan khusus kepada generasi muda.
“Generasi boleh maju mengikuti zaman, tetapi jangan sampai kehilangan jati dirinya. Kenali adat, pahami sejarah, hormati orang tua dan sesama, karena dari sanalah karakter dan martabat kita dibentuk.” Petuah Samsul.
Pesan tersebut menjadi salah satu fondasi penting arah organisasi. Generasi muda tidak hanya diarahkan untuk mengenal adat dan budaya, tetapi juga dipersiapkan memiliki pendidikan, keterampilan, kepemimpinan, literasi hukum, serta kemampuan teknologi.
Artinya, menjaga adat bukan berarti menutup diri dari perubahan. Justru sebaliknya, akar budaya menjadi pijakan agar generasi mampu melangkah lebih jauh tanpa kehilangan identitasnya. Visi Tamalaki Bende Wonua kemudian diterjemahkan dalam agenda pengabdian yang lebih luas.
Organisasi membawa misi sosial yang mencakup kemanusiaan, pendidikan, kesehatan masyarakat, lingkungan, kebencanaan, ekonomi produktif, kewirausahaan, hingga pengembangan potensi lokal.
Pada saat yang sama, kehormatan adat ditempatkan sebagai tanggung jawab bersama. Nama, simbol, dan identitas adat tidak boleh disalahgunakan untuk kepentingan pribadi ataupun tindakan yang bertentangan dengan hukum.
Prinsip ini memperlihatkan bahwa martabat adat harus dijaga melalui perilaku, bukan hanya melalui atribut.
Tamalaki Bende Wonua juga membuka ruang kemitraan dengan pemerintah, lembaga adat, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dunia usaha, pemuda, dan berbagai unsur masyarakat. Kemitraan tersebut diarahkan untuk membangun masyarakat yang lebih berdaya sekaligus mendorong pembangunan yang berkeadilan.
Asdar Bundu kembali menegaskan bahwa penghormatan terhadap adat harus berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap hukum.
“Kami ingin Tamalaki menjadi organisasi adat yang disegani karena nilai dan pengabdiannya. Adat kami junjung, masyarakat kami layani, dan hukum tetap kami hormati. Prinsipnya jelas: menjaga kehormatan adat sekaligus menjadi bagian dari kemajuan daerah dan bangsa.” Tegasnya.
Pada akhirnya, Tamalaki Bende Wonua ingin menegaskan satu pesan, bahwa adat tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu.
Adat harus menjadi kekuatan moral untuk membentuk manusia yang berkarakter, mempererat persaudaraan, menjaga kehormatan, membina generasi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dari warisan leluhur, lahir tanggung jawab untuk masa depan.
Tim Red


