Tudingan Pembengkakan Anggaran dan Mark Up di BUMDes Tematik Loea Ternyata tidak Ada, Berikut Penjelasannya

Publisher Admin-Situs Sultra
July 10, 2026
Last Updated 2026-07-10T15:03:56Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


KOLTIM,SITUSSULTRA.com-
Berdasarkan hasil rapat dengar pendapat (RDP) dan pemeriksaan Pihak Inspektorat dan DRPD Kolaka Timur (Koltim) terkait Pembangunan dan pengelolaan Anggaran Kandang Ayam petelur BUMDes Tematik Makmur gabungan 3 Desa di Kecamatan Loea yang diduga anggarannya di mark up dan membengkak, ternyata setelah dilakukan pengecekan serta pemeriksaan langsung, tidak ada temuan mark up maupun pembengkakan anggaran dan semua dinyatakan aman dan tidak ada permasalahan. 


Hal tersebut disampaikan langsung Ketua Komisi I DPRD Koltim Eka Saputra, ST saat dikonfirmasi beberapa awak media usai melakukan pemeriksaan langsung terhadap Pembangunan dan pengelolaan Kandang Ayam Petelur BUMDes Tematik Makmur Loea yang terletak di Desa Tinomu Kecamatan Loea Kabupaten Kolaka Timur Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) , Kamis (9/7/2026). 


Ia menjelaskan, bahwa setelah pihaknya menerima informasi dan aduan masyarakat berkaitan dengan dugaan pembengkakan anggaran pada BUMDes Tematik Makmur Loea sebagaimana pemberitaan di beberapa media online maka Komisi I DPRD Koltim menentukan langkah untuk melakukan RDP dan pengecekan serta pemeriksaan pengelolaan BUMDes tersebut secara terperinci. 


"Jadi setelah itu kami mengagendakan, yang pertama adalah rapat dengar pendapat yang kami undang terpisah. Di sesi pertama itu tiga kepala desa yang bersangkutan yaitu Kepala Desa Tinomu, Kepala Desa Mata Iwoi dan Kepala Desa Teposua termasuk juga pengurus BUMDES tematik Makmur Loea dimintai keterangannya," ujarnya. 


Pada sesi pertama kata Eka,  diberikan kesempatan kepada para Kepala Desa untuk menjelaskan tentang history atau awal mulanya terbentuk Bumdes tersebut. Dan berdasarkan penjelasan, mereka melaksanakan rembuk masing-masing kemudian dilaksanakan musyawarah bersama gabungan tiga desa dan sepakat membentuk badan kerjasama antardesa  yang dihadiri oleh unsur dinas pemberdayaan masyarakat desa, pendamping desa, kecamatan, babinsa dan Babinkantibmas. 

"Sehingga dari hasil musyawarah maka  disepakatilah untuk membentuk yang namanya BUMdes tematik Makmur Loea yang bergerak dibidang budidaya ayam petulur," jelasnya. 


"Adapun anggarannya 20 persen untuk dana ketahanan pangan yang setelah dikumpul ketiga Desa anggarannya sekitar Rp402.063.000, setelah dana terkumpul dilakukan musyawarah termasuk RAB dan sebagainya sudah dibahas bersama sudah didiskusikan bersama termasuk nominal per item maka terbangunlah kandang beserta puletnya, beserta pakannya, vaksinnya dengan menghabiskan anggaran Rp 402.063.000, " sambungnya. 


Ketua Komisi I itu menuturkan bahwa pada kesempatan tersebut, Ia juga memberikan kesempatan kepada pengurus BUMdes untuk menjelaskan terkait kondisi usaha yang mereka jalankan, dan setelah dicermati semua berjalan baik sesuai dengan harapan. 


"Walaupun ini baru pertama tetapi mereka didampingi oleh penyedia pakan, penyedia Vaksin mereka dilatih juga untuk merawat dan membesarkan ayam petelur itu sehingga dalam kurun waktu 3 bulan awal ayam tumbuh baik sehingga 3 bulan berikutnya ayam sudah produktif sampai hari ini kurang lebih sekitar 6 bulan mereka sudah memiliki laba sekitar Rp.60.000.000 di rekening," sebutnya.

"Dan Itu ada rekeningnya sudah disajikan dan itu sudah terpisah gaji honor untuk pengurus ternyata gajinya mereka juga sudah dianggarkan dan bahkan ini kan memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat sekitar," tambahnya. 

 

Ia mengungkapkan bahwa keterangan yang diterima dan dhimpunnya telah didalami akan tetapi tidak serta-merta pihaknya meyakini kebenarannya karena menurutnya kalau hanya berdasarkan data laporan pihak Komisi I sudah  bisa melihat memang ada kesesuaian. 


"Tetapi sekali lagi kami tidak serta-merta menerima begitu saja makanya pada jam 2 dan jam 3 kami agendakan RDP dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dihadiri langsung oleh Kepala Dinas dan 2 bidangnya termasuk Bendaharanya juga hadir selain itu kami komisi 1 mengundang juga inspektorat dan dihadiri langsung oleh Kepala Inspektorat dan Irban 2 yang memang membidangi kecamatan Loea," katanya. 


 "Berdasarkan laporan Irban 2 bahwa laporan keuangan desa khususnya di kecamatan Loea itu justru terbaik di antara kecamatan-kecamatan yang ada  di Kolaka Timur sehingga mereka bahkan mempersentasekan sekitar 80 hingga 90 persen dari kondisi itu kami tidak melihat ada persoalan yang terjadi di BUMdes bersama tematik Magmur Loea ini," terangnya. 


Ia menyebutkan berdasarkan keterangan inspektorat maupun Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) regulasi BUMDes Tematik Makmur Loea sudah terpenuhi, tata cara pembentukan BUMDESnya sudah terpenuhi anggaran RABnya sudah diverifikasi dan tempat pembelian obatnya pun itu sudah memiliki izin usaha vaksinnya juga ternyata sudah memiliki izin edar. 

"Oleh karena itu saya menganggap secara administrasi, secara data dan keterangan ini tidak ada persoalan," ujarnya 


Ia menyampaikan bahwa untuk saat ini, sejumlah pihak terkait mulai dari inspektorat Komisi I, DPMD, Babinsa, Pendamping desa dan unsur dari kecamatan telah melihat langsung yang menjadi persoalan yang berkembang di pemberitaan bahwa perbandingan atau populasi seribu di desa yang lain dan populasi seribu di BUMDes desa Tinomu Mataiwoi dan Teposua yang disebut anggaranya berbeda. 


"Inilah yang dijadikan pedoman sehingga diduga anggaran yang berbeda ini merupakan dugaan mark up , karena di populasi seribu di desa yang lain itu menghabiskan anggaran 250 juta tetapi di desa Tinomu ini ternyata menghabiskan 402.063.000 selisihnya hampir 150 juta dugaan mark upnya berasal dari selisih itu padahal tadi kami mengecek secara langsung di lapangan ternyata 403 juta itu sudah termasuk populasi seribu vaksin, pakan yang berbeda, pakan ini sekitar 158 sak  untuk L82 malindo 34 sak termasuk juga ada fasilitas rumah jaga yang tidak ada di Bumdes Usaha Ayam Petelur di desa lain yang dijadikan perbandingan," terangnya lagi. 

Sedangkan Bangunan yang disebut diduga anggarannya membengkak karena memanfaatkan kandang sapi yang direnovasi ini ternyata faktanya di lapangan kandang sapinya memang masih layak, ukuran kandang sapinya itu adalah 10x7,5 direnovasi menjadi 14x7,5 dan disebelah kandang sapi dibangun bangunan baru dengan luas 7,5x14 tadinya kandang sapi itu 14x8 jadi digabung menjadi 8 tambah 7,5 berarti 15,5x14 inilah yang membedakan besar bangunan yang dibangun itu berbeda secara signifikan, dan biayanya setelah dikalkulasikan semua sudah sesuai. 


"Sangat signifikan kapasitas memang isinya baru 1.000 ekor tetapi kapasitasnya adalah 2.000 ekor sehingga wajar dia berbeda 250 dan 402 juta bahkan kami menemukan ada item-item yang tidak masuk di dalam RAB itu terbelanjakan,  pak desa berinisiatif misalkan menambah pompa air dari 1 ternyata ditambah termasuk  kipas, dan itu tidak masuk rab, dibeli secara swadaya dan tandon air dibeli secara swadaya juga," ungkapnya. 


Namun kata dia, pihaknya  mengapresiasi adanya masukan masyarakat sehingga melalui masukan dan informasi tersebut Ia bisa melakukan  pengecekan dan pemeriksaan terhadap pengelolaan BUMDes tersebut. Dan bahkan ini akan dijadikan dasar untuk mengecek pertumbuhan dan pengelolaan Bumdes lainya yang ada di Koltim. 

Rumah jaga yang dilengkapi Wifi 

"Ini luar biasa kita harus apresiasi, setelah kita melakukan pemeriksaan, kita melihat BUMDES ini tumbuh sehat mereka punya kas punya saldo 60 juta ada kendala sedikit tentang harga telur dan mahalnya harga pakan inilah yang menjadi tanggung jawab kita ke depan bagaimana mendorong agar BUMDES ini produktif setelah dia produktif kita jembatani agar dia bisa tumbuh bisa berkembang dengan menfasilitasi agar bisa masuk ke MBG, perusahaan dan sebagainya sehingga kemandirian di desa itu melalui BUMDES mereka bisa mendapatkan PAD tambahan," harapnya. 


Ketua Tim Inspektur Pembantu (Irban) II Inspektorat Kolaka Timur Hasidin yang dikonfirmasi di lokasi Kandang Ayam petelur BUMDes Tematik Makmur Loea, Ia menjelaskan bahwa pembangunan kandang ayam petelur di Desa Loea yang disebut diduga mengalami pembengkakan anggaran, ternyata sebelumnya sudah pernah dilakukan pemeriksaan dan tidak ada kendala. 


"Jadi dari pihak inspektorat sendiri sebenarnya sudah pernah kesini waktu audit reguler. Kami walaupun itu memeriksa dokumen-dokumen kelengkapan anggaran dasar, anggaran rumah tangga dan proses pendiriannya yang sudah dibantu formulasi oleh DPMD pendampingannya. Dan untuk pembangunan kandang sendiri sebenarnya waktu itu kami juga sudah melihat dan sudah mengukur," ujarnya saat dikonfirmasi usai melakukan pengukuran dan perhitungan pada Bangunan Kandang Ayam Milik Bumdesa bersama Tematik Makmur Loea di Ruang Kandang tersebut. 


Namun Kata Hasidin setelah muncul dugaan melalui pemberitaan, pihak inspektorat kembali melakukan evaluasi pengukuran ulang untuk memastikan bahwa item-item dalam RAB itu sudah sesuai dengan yang terjadi di lapangan, bahkan justru berbanding terbalik ada pembelanjaan tambahan  diluar dari rab yang dibutuhkan untuk kesehatan Ayam petelur. 


"Setelah kami melakukan pengukuran ulang beberapa item malah ada kelebihan  pembelanjaan. Contohnya tadi boks airnya, pompa airnya, kipas angin. Jadi beberapa item itu tidak ada dalam RAB namun pihak Desa membelinya untuk menjaga kesehatan Ayam tersebut," sebutnya. 


 Ia mengatakan jika dilihat  dari prospek pendirian Bumdes tersebut sudah sangat bagus dengan penghasilan PAD yang kurang lebih 60 juta. 


"Setahu saya itu November mulai beroperasi, selama beberapa bulan ini sudah 60 juta, berarti secara tinjauan kewirausahaan, usaha dari yang dikelola oleh BUMDES ini sebenarnya sudah bermanfaat bagi desa, karena tujuan pendirian BUMDES kan sebenarnya memberikan manfaat bagi pemerintah desa dan masyarakat desa. Jadi kami melihatnya positif," akuinya. 


"Pembentukan BUMDES ini positif. Dan pembangunannya pun sudah sesuai. Karena ada penambahan kandang di bagian kiri dan bagian kanan ini kurang lebih 4 meter," sambungnya.  


Ia pun mengungkapkan adanya pengisian kandang baterai agar peningkatan produksinya lebih tinggi. Hal ini diketahui setelah dilakukan pengukuran pembangunan secara menyeluruh dan terperinci. 


"Kemarin mulai dari  sengnya apa semua. Kami hitung kayunya berapa, kami hitung per biji. Sengnya juga kita hitung per lembar, jadi kebutuhan yang ada di area B itu kami sesuaikan dengan kondisi lapangan. Berapa yang di area B, kalau untuk kapasitas penampungannya memang sudah sesuai," jelasnya. 



Sementara itu, Kepala Desa Tinomu Wayang Sudana mengatakan, terkait  bangunan yang dipersoalkan jika dilihat secara kasat mata dari luar, keadaan bangunan memang tidak terlihat baru. 


"Tapi kalau masuk ke dalam, itu kan ada bangunan kami ukurannya 7 meter setengah dikali 14 meter. Itu bangunan dengan kapasitas ayam seribu ekor. Itu saya bilang tadi, renovasi kandang sapi itu betul adanya. Kami renovasi dan kami tambah lagi 4 meter. Itu untuk ke depan," jelasnya. 


"Karena dari hasil musyawarah kami ke depannya, rencana tidak lagi menganggarkan untuk bangunan. Cuma nanti kedepannya kita menganggarkan Pulet dengan kandang baterai," sambungnya. 


Adapun pernyataan yang menyebutkan bila masih terdapat sisa kas sekitar Rp.6 juta di rekening BUMDesa. Ia menjawab, itu memang benar ada, tapi itu di bulan 2  namun pihaknya harus membayar selama 3 bulan setengah gaji pengurus atau Pekerja. 


"Jadi total semua itu dalam per bulan gaji kami keluarkan dari dana 20 persen ketapang itu Rp. 4,6," rincinya.


Ia juga menarangkan, melalui hasil musyawarah 3 kepala desa maupun BPD, ketika anggota BUMDesa Tematik Makmur siapapun itu yang punya usaha ayam petelur, tidak akan boleh diikutkan menjadi anggota BUMDes tersebut, karena jangan sampai nanti ada indikasi ke depannya kecurigaan yang menimbulkan ketersinggungan dan perselisihan. 


"Maka dari itu kami kemarin komunikasi kepada  direktur bagaimana ini, masalahnya karena kita ini bangun usaha yang sama, sedangkan kerja di usaha BUMDesa ini kan sama juga, disitu kan semua membutuhkan biaya seperti pakan, pas disitu rak telur, obat-obatan, jangan sampai nanti ke depannya ada kecemburan sosial sama teman-teman, dan itu direktur sudah mengundurkan diri," terangnya. 


Ia membeberkan harga telur yang dirapatkan bersama tiga desa ada pendapat usulan harga Rp. 47.000 sampai Rp. 48.000 per rak, namun pihaknya sepakat dijual dengan harga Rp. 45.000.



"Saya sampaikan kemarin di Musyawarah dengan teman-teman desa dan teman-teman BUMDesa, untuk desa Matoiwii Teposuwatinomu itu harga Rp. 45.000. Kalau di luar lagi itu harganya Rp.47.000 sampai Rp. 48.000. Itu saya sampaikan kemarin. Tidak harus sama supaya masyarakat ikut merasakan juga hasil usaha BUMDesa karena tujuan dari semua ini adalah untuk kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat," jelasnya. 




Penulis : Darson

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl